Kisah Isam, Mantan Pembalak Liar yang Menjadi Penyelamat Hutan

Oleh : Dita

Lebih dari separuh hidupnya telah dihabiskan untuk pekerjaan yang berinteraksi dengan hutan. Awalnya, ia sebagai pembalak liar. Namun kemudian ia menjadi seorang forester, pelestari hutan hingga saat ini. 

Inilah cerita Samsu yang akrab disapa Isam, lelaki asal Desa Sekonyer, Kabupaten Kotawaringin Barat, yang saat ini menjadi Manajer Friend of the National Park Foundation (FNPF) Kalimantan.  

Saya menjumpainya di Jerumbun, minggu ketiga Februari 2024. Saat itu ia sedang beraktivitas di persemaian bibit tumbuhan hutan. Membersihkan persemaian dengan ribuan bibit itu merupakan rutinitas hariannya saat berada di Jerumbun, kawasan konservasi yang menjadi basis gerakan reforestasi FNPF. 

Isam kelahiran 25 September 1985. Saat FNPF berdiri, ia masih anak-anak yang berangkat remaja. Ia belum kenal FNPF, organisasi pelestari orangutan dan hutan. Tumbuh dari orang tua yang mengasuh sembilan anak, kehidupan masa kecilnya serba kekurangan. 

Karena kondisi ini, saat beranjak remaja, Isam memutuskan tak melanjutkan sekolah. Ia memilih bekerja. Tapi pilihannya tak banyak. Banyak orang dewasa di desanya bekerja sebagai pembalak liar pada akhir 1990-an awal 2000-an. Pada tahun-tahun awal setelah lepasnya kontrol Orde Baru ini, perambahan hutan yang melibat masyarakat, makin massif. Hutan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terlarang pun dirambah. Isam pun turut serta dalam pekerjaan yang penuh risiko itu.

Pada 2001, pemerintah menggelar razia besar-besaran yang membuat pembalak liar di Tanjung Puting menyerah. Namun, karena alasan ekonomi dan tak punya pilihan lain, Isam masih mencoba mencari nafkah dari menebang hutan. Ia ke lokasi lain, dikenal dengan sebutan Benipah, di luar taman nasional, yang pada masa itu masih ada hutannya. 

Ketika di Benipah, tawaran pekerjaan yang lebih aman datang padanya. Orangtua Isam ditawari bergabung ke FNPF, yang waktu itu masih fokus pada perawatan orangutan rehabilitasi. Namun, orangtuanya merekomendasikan agar Isam yang masuk FNPF pada Agustus 2004. 

Jadilah saat awal bergabung FNPF, Isam mengurus orangutan. Tugasnya mengamati perilaku orangutan agar bisa cepat beradaptasi di alam bebas sebelum dilepasliarkan. Islam menjalankan tugasnya dengan baik. 

FNPF tak lama mengurus orangutan. Mereka kemudian berfokus pada pemulihan hutan, habitatnya orangutan. Meski berstatus taman nasional, banyak kawasan hutan di Tanjung Puting yang terdegradasi.

Mulailah Isam ikut menanam di Pesalat, bagian Tanjung Puting di tepi Sungai Sekonyer. Luasnya 14 hektar. Namun karena belum berpengalaman dan peralatan seadanya, penanaman tidak terlalu berhasil. Banyak pohon-pohon yang mati. “Karena kurangnya masa penyemaian bibit dan alat seadanya. Plastik (bekas) gula pun kami jadikan sebagai polybag,” ucap Isam.

Seiring waktu dan bertambahnya pengalaman, mereka berhasil juga. Bersama Redansyah yang akrab disapa Pak Ledan, hutan Pesalat perlahan mulai rimbun kembali.  

Pada tahun 2006-2007 FNPF mengalami krisis. Pendanaan minim dan tak ada kegiatan di TNTP. Isam dan staff FNPF lainnya kemdian berkumpul di Jerumbun. Jerumbun, kawasan penyangga TNTP, saat itu mengalami krisis akibat tambang ilegal. Secara swadaya, belasan staf FNPF mencoba memulihkan lahan di Jerumbun. Lahan itu digunakan untuk menanam, dan beternak ayam yang hasilnya dijual untuk membiayai hidup mereka.

Dalam situasi itu, pada 2008 datang tawaran kerja dari Orangutan Foundation United Kingdom (OFUK). Basuki merekomendasikan Isam untuk menerima tawaran itu. 

“Saya melihat Isam mampu mengemban tugas itu. Dan saya percaya Isam bisa bertanggung jawab,” ucap Basuki, yang kala itu menjadi Manajer FNPF Kalimantan.

Selama tiga tahun Isam bekerja di OFUK.  Namun, ia merasa sitausi kerja di OFUK berbeda dengan di FNPF. Meski berpenghasilan lebih baik, tapi ia kehilangan rasa kekeluargaan seperti saat di FNPF. Isam memilih berhenti dan sempat merantau satu tahun ke Sukamara.

Pada tahun 2013, Isam mendapatkan tawaran untuk kembali ke FNPF. Tanpa pikir Panjang, Isam menerima tawaran itu.  “Dengan gaji yang besar mungkin dapat menyejahterakan hidup. Namun lingkungan kerja yang tidak nyaman tidak dapat membahagiaan hidup,” ucap Isam. 

Setelah kembali, Isam fokus dengan program penanaman, hingga akhirnya pada 2022, Isam dipercaya menjadi ManaJer FNPF Kalimantan. Dengan karakter yang pendiam, murah senyum dan bertanggung jawab, Isam diterima dengan hangat oleh kawan-kawannya. 

“Abang Isam itu luar biasa  toleransi dia. Support terhadap staff-nya sangat baik. Jadi dia cocok menjadi manajer di FNPF,” kata Devin, sttaf di FNPF.

Sebarluaskan :

Recent Post
Donasi Save Our Borneo