Keteguhan Pecinta Konservasi di Era Indusrialisasi

21 Februari 2024, 20.00 WIB

Foto kawasan hutan Konservasi milik FNPF Jerumbun yang telah dijaga selama berpuluh-puluh tahun. Desa Sekonyer, Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Oleh Andre Rolis Saputra

Kalimantan Tengah (KALTENG) – Di era gempuran menggunakan lahan menjadi kebun sawit, pertambangan, dan industrialisasi untuk kepuasan pribadi. Terdapatlah sekumpulan orang yang rela membuang nafsu duniawinya untuk menjaga kelangsungan hidup hutan.

Friends of The National Park Foundation (FNPF) Jerumbun sebuah tempat Konservasi yang berada di Desa Sekonyer, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Menghalau segala ancaman yang merugikan keanekaragaman hayati di kawasan hutan Desa Sekonyer.

Di wilayah Desa Sekonyer yang mulai banyak muncul perkebunan kelapa sawit, pabrik-pabrik industri, dan pertambangan yang mengeksploitasi kawasan hutan Kalimantan di mana dijuluki sebagai paru-paru dunia. Sungguh ironis namun inilah kenyataan pahit yang dirasakan bumi Kalimantan, khususnya Desa Sekonyer.

Manajer FNPF Jerumbun, Samsu atau yang sering disapa Bang Isam telah mengabdikan dirinya sejak tahun 2004. Pria berumur 39 tahun ini merupakan warga asli Desa Sekonyer. Salah satu orang yang telah menanam jutaan pohon sejak awal ia bergabung.

Pria yang dulunya seorang penebang liar di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) justru menjadi pahlawan bagi kelestarian hutan. Bukan hanya kelestarian hayati, ekosistem hutan juga menjadi fokus pria itu.

Dengan santai dan senyum tulus pria ini bercerita alasan mengapa bisa berada di FNPF Jerumbun ini. “Pada tahun 1997 ditawari kerja orang Kumai untuk menebang kayu. Dulu ada 6 orang pertama kali masuk ke Taman Nasional untuk menebang kayu ramin. Dari hasil menebang kayu itu bisa menghasilkan 1 jutaan, di tahun segitu weh ganal banar (wah besar sekali). Dari situlah mulai banyak orang yang masuk ke Taman Nasional”. 

Walaupun menjanjikan, pastinya juga terjadi banyak masalah yang dihadapi mereka saat kerja menebang kayu di kawasan Taman Nasional itu.

“Karna ramai yang ikut menebang hutan soalnya menjanjikan, banyak polisi hutan yang berpatroli. Biasanya pasti orang kampung yang memberi tahu kalau jam-jam tertentu ada polisi yang mau berpatroli. Jadi kalau disuruh pulang tengah malam sekalipun, kami harus segera keluar di waktu itu jua (juga). Kada (tidak) bisa bermalam dulu di situ,” ujar Isam.

Hingga pada tahun 2001, setelah 4 tahun ia terus menebang hutan, muncullah patroli besar-besaran polisi hutan yang akhirnya memblokir seluruh aktivitas penebangan hutan liar di TNTP. Kemudian pria itu mencoba mencari nafkah dengan mencoba menambang emas. Bukannya menghasilkan justru dari pekerjaan itu Isam merasa kekurangan. Kemudian ia mencoba peruntungan dengan mencari kulit kayu yang biasa mereka sebut “Gembor” di sekitar kawasan Desa Sekonyer.

“Nah mencari kulit kayu tu hasilnya lumayan. Tapi pohon yang diambil kulitnya juga mati, akhirnya lama-lama habis juga.”ujar Isam

Hingga akhirnya suatu hari beliau dihubungi ayahnya untuk bergabung dengan FNPF Jerumbun untuk menanam pohon mengkudu yang nantinya hasil panen akarnya akan dikirim ke Bali untuk dijadikan pewarna pakaian. Dari situlah beliau akhirnya bergabung dengan FNPF Jerumbun pada tahun 2004. 

Awalnya beliau tidak ditempatkan di reforestasi atau penanaman hutan tetapi ditempatkan sebagai pengawas orangutan. Sampai akhirnya beliau ditawari salah satu tim FNPF Jerumbun yang berfokus pada konservasi yang berfokus pada penanaman pohon dan menjaga ekosistem hutan di kawasan Desa Sekonyer.

Saat ditanya apa yang membuat beliau berkomitmen selama ini, Bang Isam berkata, “Dulu saat masih kecil di desa sangat nyaman, mungkin hanya jalan ke Kumai untuk belanja micin dan garam saja. Kalau mau beras tinggal ambil di kebun sendiri, buah-buahan banyak di desa, sampai akhirnya sangat terasa perubahan kondisi desa dan hutan pas banyak pertambangan, kebun sawit juga pabrik-pabrik industri”.

Perubahan signifikan yang dirasakan Isam dan warga sekitar desa membuat mereka memiliki kemauan, komitmen, dan tekad yang besar untuk mengembalikan keadaan hutan mereka. Belajar pengelolaan hutan yang baik agar menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

“Yang bikin aku betah di sini karena aku belajar juga. Kalau aku tujuannya cari uang banyak, menaut ikan juga besar hasilnya dari gaji di sini. Tapi agar hutan ini bisa dirasakan untuk generasi selanjutnya, setidaknya kalau bukan aku, anak-anakku nanti bisa merasakan indahnya alam ini. Jadi itu yang membuat aku betah bahwa pekerjaan kami ini dapat dirasakan untuk generasi selanjutnya,” ujar Isam.

Staf lainnya juga merasakan hal yang sama. Contohnya Hendri pria berumur 48 tahun yang mulai bergabung dengan tim mereka pada tahun 2012. Ia merupakan mantan penambang ilegal di sekitar Desa Sekonyer. “Dengan berada di sini aku merasakan bahwa ini akan sangat berguna untuk anak-anakku nanti di masa depan,”ujar Hendri.

Komitmen yang besar, kecintaan akan alam, dan pengelolaan yang baik membuat mereka berhasil memberikan pengajaran kepada seluruh masyarakat dunia bahwa dengan menjaga hutan akan sangat berguna bagi seluruh kehidupan masyarakat lokal dan juga dunia.

Sebarluaskan :

Recent Post
Donasi Save Our Borneo