Jembatan Ledan, Penghubung Ingatan Sang Penjaga Hutan

Oleh: Iis Susilawati

 Jembatan Ledan pada hari Rabu (22/02/2023).

Jerumbun merupakan salah satu wilayah konservasi di Kalimantan Tengah yang memiliki begitu banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah jembatan yang memiliki cerita inspiratif di baliknya.

Jembatan yang terletak sekitar 1,2 kilometer dari Pondok Jerumbun itu ternyata memiliki nama yang diambil dari seorang teman yang menginspirasi. Ledan namanya.

Basuki (50) salah satu inisiator Jerumbun, mengatakan, ia dan teman-teman sepakat untuk menamai jembatan yang baru saja selesai dibangun pada tanggal 09 April 2023 itu dengan nama “Ledan”.

Ledan bukan orang sembarang. Ledan merupakan salah satu teman Basuki yang telah meninggal dunia sekitar satu tahun yang lalu. Ia merupakan sosok yang sangat dikagumi oleh Basuki dan teman-temannya, karena beliau sudah mengabdikan hidupnya selama 32 tahun di hutan Pasalat.

Pasalat merupakan salah satu wilayah yang ada di Taman nasional Tanjung Puting (TNTP). Ledan juga ikut berkontribusi besar dalam melestarikan satwa yang ada didalamnya, salah satunya orangutan.

Walaupun Ledan sakit-sakitan sejak kepergian istrinya ia masih memiliki semangat karena ada hal yang sangat ia sayangi, yaitu Pasalat. Pasalat merupakan nama kawasan hutan di dalam TNTP. Namun, saat ia diminta oleh TNTP untuk meninggalkan Pasalat, ia kehilangan semangat. Tak mudah meninggalkan tempat yang puluhan tahun dibangun dan dijaga. Walaupun demikian, faktanya Ledan masih sesekali mengunjungi Pasalat.

Selain Pesalat Ledan juga mengunjungi Jerumbun yang letaknya tak terlalu jauh. Di tempat itu, Ledan memulai membangun jembatan agar Jerumbun memiliki akses yang baik. Sayangnya, sebelum jembatan selesai, ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Peristiwa itu memukul Basuki dan teman-temannya. Sebagai bentuk mengenang kepergian Ledan, sekaligus mengobati rasa rindu Basuki dan teman-teman pada jembatan pasalat. 

“Kami beri nama jembatan Ledan sebagai bentuk pengabdian dan agar nama Ledan selalu diingat banyak orang,” ujar Basuki.

Selain itu, Ledan dianggap lebih mengetahui isi hutan mulai dari beragam jenis tanaman hingga satwa. Hal itu membuat sosoknya dikenal sebagai guru bagi banyak orang.

Hal inilah yang menjadikan ia sebagai sosok yang amat sangat dikagumi oleh Basuki dan semua orang yang pernah bertemu dengannya.

Jembatan dengan panjang kurang lebih 300 meter itu terlihat sangat menyatu dengan alam sekitar. Dengan pohon disekitarnya membuat jembatan Ledan terlihat begitu asri.

Walaupun di tengah jembatan ada beberapa pohon yang menghalangi jalan, tak menjadi alasan jembatan tersebut tidak dapat digunakan.

Jembatan tersebut dibuat dengan beberapa jenis kayu seperti kayu rengas dan bengkirai dengan pondasi kayu ulin sehingga membuat jembatan itu menjadi terlihat sangat kokoh.

Karena sumber dana yang sangat terbatas membuat kayu rengas menjadi pilihan yang tepat, karena sangat mudah didapat dan tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Hal demikian juga menjadi alasan mengapa jembatan Ledan ini cukup lama dalam proses pembuatannya.

Sekitar 2 tahun lamanya jembatan Ledan berproses akhirnya dapat menjadi tempat lalu lalang dan saksi kaki-kaki si peduli lingkungan bergerak. Dibuat oleh orang-orang yang kebanyakan berasal dari Desa Sekonyer, yang sebelumnya memanglah sudah ahli di bidangnya. Dengan teknik khusus dan pengetahuan, mereka membangun jembatan Ledan di atas rawa bukanlah hal yang sulit. Namun, bukan berarti Basuki dan teman-teman tidak mendapatkan kesulitan selama prosesnya, mengandalkan uang iuran dan sedikit hasil dari penanaman bibit butuh waktu yang tak dapat dikatakan sebentar.

Basuki mengatakan bahwa mereka sempat kehilangan kayu-kayu yang sudah disiapkan untuk bahan jembatan Ledan. Sehingga mereka harus menunggu waktu lagi untuk mengumpulkan bahan tersebut, membuat bertambah lama pula jembatan tersebut selesai.

Namun, penantian itu saat ini tengah terbayarkan dengan total pendanaan berkisar Rp 100 juta membuat angka itu cocok dengan wujud jembatan Ledan saat ini.

Selasa (20/02/2024) saya dan teman-teman dari tim “jurnalisme bercerita” melakukan tracking ke Sungai sekonyer. Melihat kokohnya Jembatan Ledan menunjukkan tercapainya tujuan jembatan tersebut dibangun yaitu, untuk mempermudah pengunjung untuk ke tepi Sungai Sekonyer.

Diprediksi jembatan Ledan ini dapat bertahan selama 4 tahun lebih. Namun harapan Basuki dan teman-teman jembatan Ledan ini bisa bertahan cukup lama dari waktu yang telah diprediksikan.

Dengan adanya Jembatan Ledan ini diharapkan makin banyak teman-teman yang peduli terhadap lingkungan dan makin tergerak untuk ikut menjaga setidaknya melihat keindahan alam yang ada ini dulu.

Usaha besar selalu dikerahkan Basuki dan teman-teman agar Jembatan Ledan ini menjadi tak sia-sia dan selalu sesuai dengan harapan. Sudah tak perlu lagi beralasan sulitnya akses jalan, tetapi karena adanya Jembatan Ledan menjadi bukti bahwa apapun itu selagi untuk alam akan selalu dimudahkan.

Sebarluaskan :

Recent Post
Donasi Save Our Borneo