{"id":9763,"date":"2026-01-28T12:04:38","date_gmt":"2026-01-28T04:34:38","guid":{"rendered":"https:\/\/saveourborneo.org\/?p=9763"},"modified":"2026-01-28T12:22:38","modified_gmt":"2026-01-28T04:52:38","slug":"wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/","title":{"rendered":"Wacana Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Eksistensi Masyarakat Adat"},"content":{"rendered":"<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p><strong>Loksado, 24 Januari 2026<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Wacana penetapan kawasan Pegunungan Meratus sebagai taman nasional kembali menimbulkan kekhawatiran serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat yang telah turun-temurun mendiami wilayah tersebut. Model konservasi negara melalui penetapan taman nasional dinilai berpotensi mengulang praktik peminggiran dan penjajahan oleh negara atas ruang hidup masyarakat adat, demi kepentingan konservasi yang tidak berpihak.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Direktur WALHI Kalsel, Raden Rafiq S.F.W. memberi kritik keras terhadap wacana ini. \u201cPenetapan taman nasional dengan pendekatan negara yang sentralistik justru berisiko menjadi bentuk baru perampasan ruang hidup masyarakat adat. Konservasi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan manusia yang selama ratusan tahun justru menjaga Meratus tetap lestari,\u201d ujarnya.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Sedikitnya 119.779 hektare wilayah Pegunungan Meratus direncanakan akan ditetapkan sebagai taman nasional. Wacana ini menghantui kehidupan masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya pada wilayah tersebut. Dikutip dari Mongabay Indonesia (25 Agustus 2025), rencana penetapan taman nasional ini akan berdampak langsung pada sedikitnya 23 desa yang tersebar di lima kabupaten, yakni Kabupaten Kotabaru, Banjar, Balangan, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Tengah.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>\u201cRencana ini bukan sekadar soal kawasan, tetapi soal kehidupan. Ketika 23 desa terancam, negara seharusnya berhenti dan bertanya: siapa yang sebenarnya dilindungi oleh kebijakan taman nasional ini?\u201d tambah Raden.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Konsep konservasi berbasis taman nasional dinilai tidak sejalan dengan sistem kehidupan masyarakat adat Meratus. Selama ratusan tahun, masyarakat adat telah hidup berdampingan dengan alam dan menerapkan praktik konservasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kehutanan semestinya mengakui, mengadopsi, dan melindungi sistem konservasi yang telah lama dipraktikkan oleh masyarakat adat, bukan justru mengancamnya.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Praktik konservasi masyarakat adat di Pegunungan Meratus telah berlangsung jauh sebelum Republik Indonesia terbentuk. Namun, ironisnya, sistem pengetahuan dan pengelolaan ruang hidup yang mereka jalankan kini terancam oleh kebijakan negara yang mengabaikan keberadaan dan hak-hak masyarakat adat.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Dalam sistem ruang hidup masyarakat adat Meratus, setidaknya terdapat empat kawasan utama yang saling terhubung dan menopang kehidupan mereka. Pertama, pahumaan, yaitu kawasan peladangan yang menjadi sumber utama pangan. Di kawasan ini, masyarakat adat menanam beragam jenis tanaman pangan yang menjadi sumber nutrisi dan protein bagi keluarga mereka.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Kedua, jurungan, yakni kawasan bekas ladang yang dibiarkan pulih secara alami hingga kembali menjadi hutan. Kawasan ini ditumbuhi berbagai jenis vegetasi alami serta tanaman buah-buahan yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Ketiga, kekayuan, yaitu kawasan berhutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air, lokasi berburu, serta sumber bahan bangunan untuk kebutuhan papan masyarakat. Kawasan kekayuan juga menjadi sumber utama air bersih bagi masyarakat adat Meratus.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>\u201cSistem pengelolaan ruang hidup masyarakat adat Meratus adalah bentuk konservasi nyata yang hidup dan bekerja. Mengabaikan pengetahuan ini sama saja dengan menghapus sejarah ekologis yang menjaga Pegunungan Meratus jauh sebelum negara hadir,\u201d tutup Raden.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 1\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Penetapan taman nasional tanpa pengakuan dan perlindungan terhadap masyarakat adat berpotensi merampas ruang hidup, memutus relasi masyarakat dengan alam, serta menghilangkan sistem pengetahuan lokal yang terbukti menjaga kelestarian Pegunungan Meratus selama berabad-abad.<\/p>\n<div class=\"page\" title=\"Page 2\">\n<div class=\"section\">\n<div class=\"layoutArea\">\n<div class=\"column\">\n<p>Masyarakat adat Meratus dan organisasi pendukung mendesak pemerintah untuk menghentikan wacana penetapan taman nasional yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat, serta segera membuka ruang dialog yang setara dan bermakna dengan masyarakat adat sebagai subjek utama perlindungan Pegunungan Meratus.<\/p>\n<\/div>\n<p><strong>Lihat Juga<\/strong> : Aksi Tolak Taman Nasional Dalam Ruang Hidup Masyarakat Adat Meratus <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=oVd2Z-z7YJM&amp;pp=ygUPc2F2ZSBvdXIgYm9ybmVv2AY0\">https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=oVd2Z-z7YJM&amp;pp=ygUPc2F2ZSBvdXIgYm9ybmVv2AY0<\/a><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Loksado, 24 Januari 2026 Wacana penetapan kawasan Pegunungan Meratus sebagai taman nasional kembali menimbulkan kekhawatiran serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat yang telah turun-temurun mendiami wilayah tersebut. Model konservasi negara melalui penetapan taman nasional dinilai berpotensi mengulang praktik peminggiran dan penjajahan oleh negara atas ruang hidup masyarakat adat, demi kepentingan konservasi yang tidak berpihak. Direktur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9764,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[91,90,89,88],"class_list":["post-9763","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-siaran-pers","tag-hutan-lebih-baik-dikelola-masyarakat-adat","tag-lets-save-our-borneo","tag-save-meratus","tag-tolak-taman-nasional"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v23.2 (Yoast SEO v27.3) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Masyarakat Adat<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Masyarakat Adat\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Loksado, 24 Januari 2026 Wacana penetapan kawasan Pegunungan Meratus sebagai taman nasional kembali menimbulkan kekhawatiran serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat yang telah turun-temurun mendiami wilayah tersebut. Model konservasi negara melalui penetapan taman nasional dinilai berpotensi mengulang praktik peminggiran dan penjajahan oleh negara atas ruang hidup masyarakat adat, demi kepentingan konservasi yang tidak berpihak. Direktur [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Save Our Borneo\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-28T04:34:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-28T04:52:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2026\/01\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1439\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"infomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@sobinfomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@sobinfomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"infomedia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"infomedia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1\"},\"headline\":\"Wacana Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Eksistensi Masyarakat Adat\",\"datePublished\":\"2026-01-28T04:34:38+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-28T04:52:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/\"},\"wordCount\":531,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"Hutan Lebih Baik Dikelola Masyarakat Adat\",\"Lets Save Our Borneo\",\"Save Meratus\",\"Tolak Taman Nasional\"],\"articleSection\":[\"Siaran Pers\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/\",\"name\":\"Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Masyarakat Adat\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-01-28T04:34:38+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-28T04:52:38+00:00\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/01\\\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1439},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/\",\"name\":\"Save Our Borneo\",\"description\":\"People | Forest | Futures\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\",\"name\":\"Save Our Borneo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/Logo-Baru.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/Logo-Baru.png\",\"width\":300,\"height\":250,\"caption\":\"Save Our Borneo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/SOBinfomedia\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/sobinfomedia\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/save_our_borneo\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@SOBINFOMEDIA\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1\",\"name\":\"infomedia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"caption\":\"infomedia\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Masyarakat Adat","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Masyarakat Adat","og_description":"Loksado, 24 Januari 2026 Wacana penetapan kawasan Pegunungan Meratus sebagai taman nasional kembali menimbulkan kekhawatiran serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat yang telah turun-temurun mendiami wilayah tersebut. Model konservasi negara melalui penetapan taman nasional dinilai berpotensi mengulang praktik peminggiran dan penjajahan oleh negara atas ruang hidup masyarakat adat, demi kepentingan konservasi yang tidak berpihak. Direktur [&hellip;]","og_url":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/","og_site_name":"Save Our Borneo","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia","article_published_time":"2026-01-28T04:34:38+00:00","article_modified_time":"2026-01-28T04:52:38+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1439,"url":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2026\/01\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"infomedia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@sobinfomedia","twitter_site":"@sobinfomedia","twitter_misc":{"Written by":"infomedia","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/"},"author":{"name":"infomedia","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/person\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1"},"headline":"Wacana Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Eksistensi Masyarakat Adat","datePublished":"2026-01-28T04:34:38+00:00","dateModified":"2026-01-28T04:52:38+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/"},"wordCount":531,"publisher":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2026\/01\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg","keywords":["Hutan Lebih Baik Dikelola Masyarakat Adat","Lets Save Our Borneo","Save Meratus","Tolak Taman Nasional"],"articleSection":["Siaran Pers"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/","name":"Penetapan Taman Nasional Meratus Mengancam Masyarakat Adat","isPartOf":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2026\/01\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg","datePublished":"2026-01-28T04:34:38+00:00","dateModified":"2026-01-28T04:52:38+00:00","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/wacana-penetapan-taman-nasional-meratus-mengancam-eksistensi-masyarakat-adat\/#primaryimage","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2026\/01\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2026\/01\/Tolak_TN_Meratus-scaled.jpg","width":2560,"height":1439},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#website","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/","name":"Save Our Borneo","description":"People | Forest | Futures","publisher":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/saveourborneo.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization","name":"Save Our Borneo","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2023\/07\/Logo-Baru.png","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2023\/07\/Logo-Baru.png","width":300,"height":250,"caption":"Save Our Borneo"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia","https:\/\/x.com\/sobinfomedia","https:\/\/www.instagram.com\/save_our_borneo\/","https:\/\/www.youtube.com\/@SOBINFOMEDIA"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/person\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1","name":"infomedia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","caption":"infomedia"},"sameAs":["https:\/\/saveourborneo.org"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9763"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9763\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9768,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9763\/revisions\/9768"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9764"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}