{"id":804,"date":"2015-10-02T04:52:15","date_gmt":"2015-10-02T04:52:15","guid":{"rendered":"https:\/\/saveourborneo.org\/?p=804"},"modified":"2024-07-16T13:54:20","modified_gmt":"2024-07-16T13:54:20","slug":"hidup-dalam-cengkraman-asap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/","title":{"rendered":"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Palangkaraya-Central Kalimantan [<i>burning session<\/i>].\u00a0 Sudah lebih dari sebulan, kami di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah hidup dalam cengkraman asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan. Kesehatan warga terganggu, penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi mata, dan iritasi kulit makin banyak di rumah sakit dan klinik, bahkan ada korban jiwa melayang akibat tidak kuat menghirup udara kotor.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-807 aligncenter\" src=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2015\/10\/IMG_2850-copy-300x200.jpg\" alt=\"IMG_2850 copy\" width=\"797\" height=\"532\" \/> <!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anak-anak kami terpaksa libur sekolah karena pemerintah tidak bisa menyediakan sekolah yang memadai dan tidak sanggup menyediakan kondisi sekolah sehat untuk sekolah.\u00a0 Transfortasi dan perdagangan terganggu, kebutuhan bahan pangan dan lainnya terhambat distribusinya.\u00a0 Bahkan kegiatan keagamaan seperti orang yang mau berangkat Haji ke Mekkah juga terganggu karena harus terhambat transfortasinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah lebih dari sebulan kami menjadi manusia-manusia yang harus bertahan hidup dalam udara kotor yang kalau di hitung dengan Indek Standard Particulat [PSI 10] mencapai 6 kali level berbahaya.\u00a0 Bayangkan saja, level berbahaya PSI adalah 350 pm.\u00a0 Kami pernah dan tidak jarang harus menghirup udara dengan PSI mencapai 2300 pm.\u00a0 Itu artinya melebihi level bahaya, dan dapat kami sebut sebagai level MEMATIKAN.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kami berpikir bahwa kebakran hutan dan lahan\u00a0(Karhutla) yang sering terjadi di Sumatera dan Kalimantan karena lemahnya penegakan hokum, pembiaran dan kurangnya pengawasan sehingga kebakaran hutan dan lahan terus berulang-ulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sampai saat ini, Indonesia belum berhasil meredam kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun dan mengganggu lalu lintas penerbangan serta mengancam kesehatan penduduk. Kabarnya, berbagai upaya telah ditempuh untuk melakukan kerjasama regional dengan negara-negara tetangga, hingga kini tidak membuahkan hasil. Kebakaran hutan tahun ini [2015] diperkirakan menghasilkan tingkat polusi terburuk di kawasan Asia Tenggara<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kerumitan penanganan kebakaran hutan dan lahan terjadi karena para pelaku pembakar hutan, baik masyarakat maupun kelas-kelas menengah dan perusahaan selalu berhubungan dengan orang-orang kuat, baik di tingkat kabupaten, nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak akan mudah bagi seorang bupati untuk menuntut (pembakar hutan), bisa jadi yang punya kebun kelapa sawit, membakar hutan, berhubungan dengan partai tertentu atau kuat di daerah, sehingga bupati atau gubernur tidak gampang bertindak, harus melihat konstelasi politik.\u00a0 Aktor-aktor tersebut, nampaknya \u00a0bekerja seperti &#8220;kejahatan terorganisir&#8221;, dimana ada kelompok-kelompok yang menjalankan tugas berbeda, seperti mengklaim lahan, mengorganisir petani yang melakukan penebasan atau penebangan atau pembakaran, sampai tim pemasaran dan melibatkan aparat desa. Namun tak hanya di tingkat pusat, pemilik lahan bisa saja kerabat penduduk desa, staf perusahaan, pegawai di kabupaten, pengusaha, atau investor skala menengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-774 aligncenter\" src=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2015\/03\/WHP1-copy-300x199.jpg\" alt=\"WHP1 copy\" width=\"862\" height=\"572\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Bambang Hendroyono menyatakan, dari 10 perusahaan itu, ada 5 perusahaan yang diduga berperan dalam pembakaran hutan di Riau, 2 perusahaan di Jambi, dan 3 perusahaan di Kalimantan Tengah. Semua perusahaann itu bergerak di bidang perkebunan dan hutan tanaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi pihak industri perkebunan dan kehutanan menyalahkan para petani lokal yang disebut-sebut melakukan pembakaran hutan hingga tidak bisa terkontrol lagi. Kelompok-kelompok lingkungan mengeritik perusahaan pulp, kertas dan kelapa sawit tidak melakukan upaya apa-apa untuk mencegah kebakaran hutan, malah melakukan pembabatan hutan secara besar-besaran.\u00a0 Ironisnya polisi masih [dianggap] tebang pilih dalam menangkap pelaku pembakaran hutan karena berkaitan dengan perusahaan, sehingga sringkali hanya petani-petani kecil yang ditangkap, sementara perusahaan bebas berbuat.\u00a0 Selain itu, saat pelaku sudah berhasil ditangkap dan dihukum pengadilan, hukuman yang dijatuhkan dirasa tidak maksimal yang menimbulkan efek jera.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada beberapa media diberitakan bahwa Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti memiliki dugaan bahwa memang ada perusahaan yang ikut terlibat dalam kasus pembakaran tersebut. Sayangnya, untuk kasus saat ini belum bisa membenarkan keterlibatan perusahaan karena bukti belum terkumpul.\u00a0 Kalaupun Polri berhasil mengusut sejumlah kasus, Badrodin mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kewenangan untuk mencabut izin perusahaan-perusahaan tersebut, melainkan kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama ini pemerintah terkesan tidak serius dalam mengatasinya persoalan-persoalan kebakaran hutan \/ lahan beserta dampaknya dan menyediakan penampungan dan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang jadi korban.\u00a0 Selain itu, pemerintah juga harus berani melakukan evaluasi menyeluruh bahkan mencabut izin perkebunan yang terbukti telah membakar hutan, dan menangkap para pelakunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #008000;\"><b>Konversi Hutan yang Mudah dan Murah<\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimanapun juga, kebakaran hutan dan lahan mempunyai korelasi positif dan sebangun dengan praktik konversi hutan yang massif untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan dan industry extraktif lainya.\u00a0\u00a0 Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit misalnya, diyakini betul sebagai salah satu penyebab timbulnya praktik burning.\u00a0 Dengan alasan efektivitas waktu dan efisiensi biaya, maka pembakaran hutan dan lahan disinyalir menjadi pilihan untuk land clearing secara cepat dan murah.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-808 aligncenter\" src=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2015\/10\/IMG_2937-copy-300x200.jpg\" alt=\"IMG_2937 copy\" width=\"924\" height=\"616\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa data menunjukkan bahwa kebakaran hutan selalu terjadi di lahan pada areal konsesi perkebunan kelapa sawit atau lahan kosong, namun kemudian kebanyakan dari lahan yang terbakar berubah menjadi kebun sawit beberapa waktu kemudian.\u00a0 Lahan tersebut ada yang sudah mempunyai Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan [IPKH] ada juga yang masih bodong sama sekali, dimana kerap kali pembakaran juga dimaksudkan sebagai alibi untuk mempermudah ijin dengan alasan areal yang dimintakan IPKH adlah kawasan terdegradasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baru-baru ini, bukanya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan secara lebih serius, <i>ujug-ujug<\/i> pemerintahan regim Jokowi melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan justru mempermudah regulasi dan perijinan untuk konversi hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah untuk memberikan kemudahan investasi di kawasan hutan.\u00a0 Izin pelepasan kawasan hutan produksi dipersingkat dari 2-4 tahun menjadi 12-15 hari saja.\u00a0 Izin pelepasan kawasan hutan disederhanakan dengan mengubah Permenhut P.33\/Menhut-II\/2015 tentang Tata Cara Pelepasan Kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi jo P.28\/Menhut-II\/2014. Kemudahan itu untuk membuat investasi jadi lebih menarik bagi dunia usaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kisaran waktu itu diragukan memberi waktu cukup bagi petugas untuk memverifikasi dan menyelesaikan benturan konflik lahan di lapangan. Kekhawatiran muncul karena proses pelepasan kawasan hutan membutuhkan verifikasi lapangan. Kerap kali kondisi geografis dan cuaca jadi kendala untuk cepat dan akurat mengecek ulang lokasi yang diajukan pengusaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti diketahui bahwa pengajuan izin pelepasan kawasan hutan membutuhkan juga rekomendasi gubernur\/kepala daerah.\u00a0 Dalam konteks ini apakah Kementerian LHK dapat melakukan verifikasi dan mengecek dalam jangka waktu 12-15 hari.\u00a0 Hal ini perlu dipertimbangkan karena kadang-kadang daerah hanya mempertimbangkan kepentingan ekonomi serta melupakan aspek lingkungan dan sosial. Jika terjadi kelalaian dan kekurang hati-hatian, maka hajat hidup orang banyak jadi taruhan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan melihat perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan dan hubungannya dengan konversi hutan maka muncul pertanyaan mendasar, apakah kebakran hutan dan lahan yang kerap kali diakibatkan adanya konversi hutan untuk industry extraktif dapat dijawab dengan deregulasi \/ kemudahan perijinan pelepasan kawasan hutan dan lain sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebakran hutan dan lahan semestinya jangan sampai terjadi lagi tahun depan, harus diambil langkah komprehensif, bukanya justru deregulasi konversi hutan yang diberikan. Ini sama saja dengan memberikan obat tetes mata kepada orang yang menderita diare. Keliru total.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika kebakaran hutan dan lahan ini dianggap hanya sebagai ceremonial tahunan yang merupakan bagian dari \u201c<b>peringatan hari asap dan bencana kebakaran tahunan<\/b>\u201d maka niscaya tahun-tahun kedepan, kami akan tetap menikmati aroma asap dari terbakarnya hutan tropis dan hutan gambut. [<i>nordin-save our borneo<\/i>]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Palangkaraya-Central Kalimantan [burning session].\u00a0 Sudah lebih dari sebulan, kami di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah hidup dalam cengkraman asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan. Kesehatan warga terganggu, penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi mata, dan iritasi kulit makin banyak di rumah sakit dan klinik, bahkan ada korban jiwa melayang akibat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":867,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,28,13,16,17],"tags":[],"class_list":["post-804","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-bencana-lingkungan","category-deforestation","category-palm-oil","category-protest"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v23.2 (Yoast SEO v27.3) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d | Save Our Borneo<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d | Save Our Borneo\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Palangkaraya-Central Kalimantan [burning session].\u00a0 Sudah lebih dari sebulan, kami di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah hidup dalam cengkraman asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan. Kesehatan warga terganggu, penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi mata, dan iritasi kulit makin banyak di rumah sakit dan klinik, bahkan ada korban jiwa melayang akibat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Save Our Borneo\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-10-02T04:52:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-07-16T13:54:20+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"infomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@sobinfomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@sobinfomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"infomedia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"infomedia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1\"},\"headline\":\"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d\",\"datePublished\":\"2015-10-02T04:52:15+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-16T13:54:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/\"},\"wordCount\":1077,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"\",\"articleSection\":[\"ARTIKEL\",\"Bencana Lingkungan\",\"Deforestation\",\"Oil Palm\",\"Protest\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/\",\"name\":\"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d | Save Our Borneo\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"\",\"datePublished\":\"2015-10-02T04:52:15+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-16T13:54:20+00:00\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/hidup-dalam-cengkraman-asap\\\/#primaryimage\",\"url\":\"\",\"contentUrl\":\"\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/\",\"name\":\"Save Our Borneo\",\"description\":\"People | Forest | Futures\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\",\"name\":\"Save Our Borneo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/Logo-Baru.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/Logo-Baru.png\",\"width\":300,\"height\":250,\"caption\":\"Save Our Borneo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/SOBinfomedia\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/sobinfomedia\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/save_our_borneo\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@SOBINFOMEDIA\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1\",\"name\":\"infomedia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"caption\":\"infomedia\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d | Save Our Borneo","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d | Save Our Borneo","og_description":"Palangkaraya-Central Kalimantan [burning session].\u00a0 Sudah lebih dari sebulan, kami di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah hidup dalam cengkraman asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan. Kesehatan warga terganggu, penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi mata, dan iritasi kulit makin banyak di rumah sakit dan klinik, bahkan ada korban jiwa melayang akibat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/","og_site_name":"Save Our Borneo","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia","article_published_time":"2015-10-02T04:52:15+00:00","article_modified_time":"2024-07-16T13:54:20+00:00","author":"infomedia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@sobinfomedia","twitter_site":"@sobinfomedia","twitter_misc":{"Written by":"infomedia","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/"},"author":{"name":"infomedia","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/person\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1"},"headline":"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d","datePublished":"2015-10-02T04:52:15+00:00","dateModified":"2024-07-16T13:54:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/"},"wordCount":1077,"publisher":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"","articleSection":["ARTIKEL","Bencana Lingkungan","Deforestation","Oil Palm","Protest"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/","name":"\u201cHidup Dalam Cengkraman Asap\u201d | Save Our Borneo","isPartOf":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"","datePublished":"2015-10-02T04:52:15+00:00","dateModified":"2024-07-16T13:54:20+00:00","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/hidup-dalam-cengkraman-asap\/#primaryimage","url":"","contentUrl":""},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#website","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/","name":"Save Our Borneo","description":"People | Forest | Futures","publisher":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/saveourborneo.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization","name":"Save Our Borneo","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2023\/07\/Logo-Baru.png","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2023\/07\/Logo-Baru.png","width":300,"height":250,"caption":"Save Our Borneo"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia","https:\/\/x.com\/sobinfomedia","https:\/\/www.instagram.com\/save_our_borneo\/","https:\/\/www.youtube.com\/@SOBINFOMEDIA"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/person\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1","name":"infomedia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","caption":"infomedia"},"sameAs":["https:\/\/saveourborneo.org"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/804","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=804"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/804\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8508,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/804\/revisions\/8508"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=804"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=804"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=804"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}