{"id":3988,"date":"2022-10-30T10:30:27","date_gmt":"2022-10-30T03:30:27","guid":{"rendered":"https:\/\/saveourborneo.org\/?p=3988"},"modified":"2024-07-16T13:54:11","modified_gmt":"2024-07-16T13:54:11","slug":"banjir-terparah-genangi-hanjalipan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/","title":{"rendered":"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan"},"content":{"rendered":"<p>Banjir pada tahun 2022 ini adalah yang terparah dibandingkan tahun 1997 di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Akibatnya, banyak rumah warga yang terendam dan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>(26\/10\/22)<\/strong> Sejak awal bulan September 2022, warga Hanjalipan harus berhadapan dengan banjir. Air setinggi 1-2 meter menggenangi desa di Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotim, Kalteng.<\/p>\n<p>Kurlian (54), ketua RT 3 Desa Hanjalipan mengatakan bahwa banjir serupa pernah terjadi pada tahun 1997 lalu. Namun, keadaannya tidak separah saat ini. \u201cSekitar tahun 1997, bajir besar juga pernah melanda desa ini. Tetapi, saat itu tidak ada warga yang mengungsi,\u201d kata Kurlian.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3997\" aria-describedby=\"caption-attachment-3997\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-3997\" src=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/02-1024x640.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/02-1024x640.jpg 1024w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/02-300x188.jpg 300w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/02-768x480.jpg 768w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/02-18x12.jpg 18w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/02.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3997\" class=\"wp-caption-text\">Katil, tempat penampungan barang warga untuk menghidari genangan air yang memasuki dalam rumah.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sambil membuat alat penangkap ikan dari atas perahu miliknya, Kulian menceritakan bahwa sudah hampir dua bulan rumah ia dan warga lainnya terendam banjir. Memilih tidak mengungsi, Kurlian membuat katil, tempat tinggal sementara dari susunan papan dan balok kayu yang ia tempel di bagian dalam dinding rumah. Sehingga, ada tempat tinggi yang tidak terendam air.<\/p>\n<p>Sebagian besar warga Hanjalipan juga terpaksa harus tinggal di atas katil seperti Kurlian di dalam kediaman mereka. Aktivitas sehari-hari seperti tidur dan memasak, mereka lakukan di atas katil. Sementara itu, sebagian warganya lagi terpaksa harus mengungsi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4001\" aria-describedby=\"caption-attachment-4001\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-4001\" src=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/06-1024x640.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/06-1024x640.jpg 1024w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/06-300x188.jpg 300w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/06-768x480.jpg 768w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/06-18x12.jpg 18w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/06.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4001\" class=\"wp-caption-text\">Tenda pengungsian warga yang telah disiapkan pemerintah daerah setempat untuk warga di hanjalipan.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Hendrawati (37) adalah sebagian warga Hanjalipan yang memilih untuk mengungsi ke tenda terpal yang memang didirikan oleh warga di salah satu bukit di seberang desa. Meskipun di lokasi yang sama, ada juga didirikan beberapa buah tenda oleh Pemerintah Kotim dan Kalteng.<\/p>\n<p>Perempuan ini mengungsi bersama 3 anggota keluarganya. Ia menuturkan bahwa mereka terpaksa mengungsi karena tidak bisa lagi melakukan aktivitas sehari-hari di rumah. \u201c Saya tidak bisa bekerja. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan selama banjir kami berharap bantuan dari pihak lain terutama kepada pemerintah,\u201d cerita Hendrawati.<\/p>\n<p>Bersama Hendrawati, ada juga tujuh keluarga lainnya yang ikut mengungsi. Mereka semua mengaku hanya membawa pakaian dan peralatan memasak. Barang-barang lain terpaksa ditinggalkan begitu saja di rumah yang terendam.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3999\" aria-describedby=\"caption-attachment-3999\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-3999 size-large\" src=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/04-1024x640.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/04-1024x640.jpg 1024w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/04-300x188.jpg 300w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/04-768x480.jpg 768w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/04-18x12.jpg 18w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/04.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3999\" class=\"wp-caption-text\">Hendrawati, bersama anggota keluarganya di tenda terpal pengungsian yang mereka dirikan untuk tempat memasak dan beristirahat.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sementara itu, Ilus (55) ketua RT 1 desa Hanjalipan juga menceritaan hal yang sama. Menurutnya, banjir kali ini memang yang terparah. \u201cBanjir kali ini parah. Hal ini bisa jadi karena adanya perubahan lahan, dari yang dulunya hutan sekarang berganti menjadi kebun sawit,\u201d kata Ilus.<\/p>\n<p>Ilus juga menjelaskan bahwa keadaan ini yang memungkinkan air hujan tak lagi dapat tertahan. Sehingga, air hujan akan langsung turun ke sungai dan menyebabkan banjir.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4002\" aria-describedby=\"caption-attachment-4002\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-4002\" src=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/07-1024x640.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/07-1024x640.jpg 1024w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/07-300x188.jpg 300w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/07-768x480.jpg 768w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/07-18x12.jpg 18w, https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/07.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4002\" class=\"wp-caption-text\">Kondisi banjir desa hanjalipan, membuat akses transportasi darat lumpuh total.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Atas permasalahan lingkungan yang menimpa warga Hanjalipan ini, mereka berharap air dapat segera surut dan banjir tidak lagi terjadi di desa mereka. Sampai saat itu, mereka sangat berharap kepada bantuan dari Pemerintah. <strong>(Habibi\/P. Juliana)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banjir pada tahun 2022 ini adalah yang terparah dibandingkan tahun 1997 di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Akibatnya, banyak rumah warga yang terendam dan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari. \u00a0 (26\/10\/22) Sejak awal bulan September 2022, warga Hanjalipan harus berhadapan dengan banjir. Air setinggi 1-2 meter menggenangi desa di Kecamatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3996,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,28],"tags":[],"class_list":["post-3988","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-bencana-lingkungan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v23.2 (Yoast SEO v27.3) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Banjir Terparah Genangi Hanjalipan | Save Our Borneo<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan | Save Our Borneo\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Banjir pada tahun 2022 ini adalah yang terparah dibandingkan tahun 1997 di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Akibatnya, banyak rumah warga yang terendam dan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari. \u00a0 (26\/10\/22) Sejak awal bulan September 2022, warga Hanjalipan harus berhadapan dengan banjir. Air setinggi 1-2 meter menggenangi desa di Kecamatan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Save Our Borneo\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-10-30T03:30:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-07-16T13:54:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/01.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"900\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"infomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@sobinfomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@sobinfomedia\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"infomedia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"infomedia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1\"},\"headline\":\"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan\",\"datePublished\":\"2022-10-30T03:30:27+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-16T13:54:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/\"},\"wordCount\":481,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/10\\\/01.jpg\",\"articleSection\":[\"ARTIKEL\",\"Bencana Lingkungan\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/\",\"name\":\"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan | Save Our Borneo\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/10\\\/01.jpg\",\"datePublished\":\"2022-10-30T03:30:27+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-16T13:54:11+00:00\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/10\\\/01.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/10\\\/01.jpg\",\"width\":1440,\"height\":900},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/\",\"name\":\"Save Our Borneo\",\"description\":\"People | Forest | Futures\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#organization\",\"name\":\"Save Our Borneo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/Logo-Baru.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/07\\\/Logo-Baru.png\",\"width\":300,\"height\":250,\"caption\":\"Save Our Borneo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/SOBinfomedia\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/sobinfomedia\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/save_our_borneo\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@SOBINFOMEDIA\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1\",\"name\":\"infomedia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"url\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016\",\"caption\":\"infomedia\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/saveourborneo.org\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan | Save Our Borneo","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan | Save Our Borneo","og_description":"Banjir pada tahun 2022 ini adalah yang terparah dibandingkan tahun 1997 di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Akibatnya, banyak rumah warga yang terendam dan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari. \u00a0 (26\/10\/22) Sejak awal bulan September 2022, warga Hanjalipan harus berhadapan dengan banjir. Air setinggi 1-2 meter menggenangi desa di Kecamatan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/","og_site_name":"Save Our Borneo","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia","article_published_time":"2022-10-30T03:30:27+00:00","article_modified_time":"2024-07-16T13:54:11+00:00","og_image":[{"width":1440,"height":900,"url":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/01.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"infomedia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@sobinfomedia","twitter_site":"@sobinfomedia","twitter_misc":{"Written by":"infomedia","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/"},"author":{"name":"infomedia","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/person\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1"},"headline":"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan","datePublished":"2022-10-30T03:30:27+00:00","dateModified":"2024-07-16T13:54:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/"},"wordCount":481,"publisher":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/01.jpg","articleSection":["ARTIKEL","Bencana Lingkungan"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/","name":"Banjir Terparah Genangi Hanjalipan | Save Our Borneo","isPartOf":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/01.jpg","datePublished":"2022-10-30T03:30:27+00:00","dateModified":"2024-07-16T13:54:11+00:00","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/banjir-terparah-genangi-hanjalipan\/#primaryimage","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/01.jpg","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2022\/10\/01.jpg","width":1440,"height":900},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#website","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/","name":"Save Our Borneo","description":"People | Forest | Futures","publisher":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/saveourborneo.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#organization","name":"Save Our Borneo","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2023\/07\/Logo-Baru.png","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/liqason\/2023\/07\/Logo-Baru.png","width":300,"height":250,"caption":"Save Our Borneo"},"image":{"@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/SOBinfomedia","https:\/\/x.com\/sobinfomedia","https:\/\/www.instagram.com\/save_our_borneo\/","https:\/\/www.youtube.com\/@SOBINFOMEDIA"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/#\/schema\/person\/51761ead41bef99e68e1aa53ad0699d1","name":"infomedia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","url":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","contentUrl":"https:\/\/saveourborneo.org\/my_savers\/litespeed\/avatar\/9329499f1088d90773ea473c10b60d5f.jpg?ver=1776149016","caption":"infomedia"},"sameAs":["https:\/\/saveourborneo.org"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3988","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3988"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3988\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8411,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3988\/revisions\/8411"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3996"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3988"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3988"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saveourborneo.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3988"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}