Jurnalisme Bercerita

Jurnalisme Bercerita

KATA PENGANTAR

Memorabilia Jurnalisme Bercerita Angkatan Pertama

Benar kata Pramoedya Ananta Toer. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Begitu kira-kira angan besar Save Our Borneo (SOB) mengadakan pelatihan menulis bertajuk Jurnalisme Bercerita.

Tak segan-segan, 16 pemuda super gaul yang nyaris tak pernah membaca koran itu diboyong menuju hutan Jerumbun di Desa Sungai Sekonyer, Minggu (18/2/2024). Untuk menuju hutan itu saja bukan main usahanya, naik kelotok menyusuri Sungai Kumai, lalu duduk di pikap mobil macam ayam kehujanan. Belum lagi sopir pikap yang beranggapan jalan tanah di antara kebun sawit itu seperti adu balap liar.

Terpontal-pontal lah mereka ke sana kemari.

Mereka mulai curiga pelatihan macam apa yang bakal diterima sehingga begitu effort untuk ke hutan. Tibalah mereka di hutan Jerumbun yang letaknya tak jauh dari Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Hutan itu dikelola Friends of the National Park Foundation (FNPF). Namanya memang sangat Inggris, namun di dalamnya berisi orang-orang ‘gila’ yang punya alasan masing-masing untuk mau tinggal di hutan. Mereka menjaga kawasan yang hampir tiap tahun diancam api, diancam tergusur sawit dan tambang. Pokoknya pekerjaan yang hanya bisa dilakukan orang hebat. 

Dari para penjaga Jerumbun itu lah 16 pemuda harapan bangsa tadi belajar. Belajar menuliskan kisah-kisah mereka. Tak hanya manusia, alam pun ikut ditulis dan menjadi ruang belajar untuk menuliskan kisah tanpa titik.

“Koook…koook!” suara gagak hutan Kalimantan (Corvus enca) memekik pada Senin (19/2/2024) pagi yang senyap di Jerumbun. Suara itu menampar-nampar atap seng, menyelisik daun Gaharu, menjatuhkan buah keringnya, begitu terus sampai telinga-telinga para pemuda yang tidur di bawah atapnya terganggu.

Di pohon jengkol tempat gagak hitam itu bertengger, terlihat tupai yang berlarian. Tupai lalu melompat ke salah satu bilik di pondok guesthouse Jerumbun. Suara gagak, pekikan tupai, dan sahutan burung-burung juga satwa lainnya membangunkan Debora, Amelia, dan Vanness, tiga sekawan hampir tersohor dari Universitas Antakusuma Pangkalan Bun.

Ketiganya lalu menggotong ember penuh pakaian kotor menuju kamar mandi. Sembari mencuci, ketiganya mengobrol mulai dari soal coklat valentine, hingga peristiwa Vanness terjatuh di kamar mandi. Begitu seru mengobrol, ketiganya tak menyadari antrian panjang menunggu giliran mandi. Kegaduhan kecil di tengah hutan itu disambut riang oleh orang-orang yang masih tertidur di pondok lainnya.

Tak jauh dari kamar mandi hamparan bibit hijau menyapa di tempat penyemaian. Tempat itu menyimpan ribuan bibit berbagai jenis pohon, seperti ulin (Eusideroxylon zwageri), belangeran (Shorea Balangeran), Nyatoh atau nagasari (Palaquium rostratum), Gaharu (Aquilaria malaccensis) hingga berbagai macam buah-buahan. Tempat penyemaian dilindungi jaring hitam atau yang disebut paranet untuk naungan bibit.

Usai lah sudah cuci-mencuci, pelatihan pun berjalan. Tiga sekawan beraksi, tetapi ada Uye alias Sandy yang tak kalah tersohor sebagai Barisan Pemuda Adat Nusantara. Pagi benar ia sibuk menguntit Basuki (50), salah satu pengelola Jerumbun. Habis Basuki diwawancara Uye.

Setelah Uye, Iis Susilawati datang menghadang Basuki, belum mulai Iis bertanya, Gusti Rivqi ikut menghadang. Mandi pun belum, terpaksa Basuki meladeni mereka, menarik ingatan-ingatan belasan bahkan puluhan tahun lalu tentang dirinya, hutan, dan bahkan hantu. Entah apa yang ditanya.

Tak jauh dari sana, ada Samsu atau yang lebih karib disapa Isam, Manajer FNPF yang diberondong pertanyaan oleh Dita yang tak lain dan tak bukan adalah keponakannya sendiri. Dita yang juga jadi peserta Jurnalisme Bercerita, bertanya layaknya penyidik Polres Kotawaringin Barat.

Lain Dita, lain lagi Randa dan Farietz Rakhman yang sedari pagi buta hingga siang bolong melompong memerhatikan bentuk guesthouse. Dasar anak teknik

Namun, jadi juga tulisan meski mereka berdua saling wawancara dan saling mengamati. Entah ada apa dengan keduanya.

Alfarizi tak mau kalah. Saat yang lain masih sibuk mencari narasumber dan referensi, dia sibuk bertanya pada diri sendiri. “Mengapa menanam pohon itu penting?” pertanyaan itu pun ia jawab sendiri.

Novi Anggraeni, mahasiswa Antakusuma lainnya, tak kalah seru. Dua bule datang ribuan kilometer dari Jerman ke Jerumbun, naik perahu menyusuri Sungai Sekonyer yang penuh buaya, kehujanan, kepanasan, lengkaplah sudah derita itu. 

Pasutri Jerman itu bahkan belum lima menit duduk saat Novi datang dengan berondong pertanyaan bersama dengan Andi, satu-satunya peserta yang tiap hari menulis karena memang kuli tinta. Curang.

Andre Rolis, Aisyah, dan Asa mungkin jadi peserta yang paling anteng dan cool. Tak banyak ba-bi-bu, dalam sekejap tulisan sudah selesai, layaknya sulap prokprok….prok jadi apa??

Namun, di antara semuanya Ahmad Tirmiji yang paling ‘hampir’ licik. Saat yang lain keluar masuk hutan mengejar narasumber, meneliti pohon, memantau krisis air, mencari pembuat kriya bruta, mematung melihat bangunan, digigit nyamuk, nyaris berenang di sungai buaya, Tirmiji cukup duduk di dapur dan menulis tentang kegiatan yang sedang ia ikuti. Licik, namun cerdas.

Peristiwa-peristiwa itu yang saya rangkum di kata pengantar ini agar para pembaca tahu kisah di balik tulisan-tulisan yang ada di blog ini.

Hasilnya ada 16 tulisan yang, bahkan saya sendiri pun heran, mengagumkan untuk penulis pemula. Ternyata benar, niat itu bisa mengubah batu menjadi pasir. Mereka yang bahkan baru mendengar istilah jurnalisme dalam hidup mereka bisa menulis feature yang humanis, hampir drama, bahkan kritis.

Untuk itu, bagi para pembaca semua, tulisan-tulisan dalam blog ini merupakan tulisan para penulis-penulis muda berbakat tadi yang dengan susah payah, jungkir balik, terpontal-pontal, sampai pontang-panting, membuat cerita yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. 

Sebuah modal besar untuk menjadi lebih kritis melihat persoalan dan lebih dalam mencari jawaban. Caranya mungkin sederhana, namun mimpinya besar.

Penulis-penulis ini sudah terlalu sering melihat ketidakadilan, namun dengan banyak upaya, mereka jadikan menulis sebagai salah satu pilihan agar suara yang nyaris tak terdengar itu bisa lantang di telinga pembaca.

Tulisan-tulisan ini hanya permulaan. Saya yakin dan percaya mereka akan kembali menuliskan banyak kisah, yang mungkin akan mengejutkan banyak orang atau bahkan menyadarkan.

Selamat datang di blog Jurnalisme Bercerita angkatan pertama!

Aldo Sallis