Di Jerumbun, Akar Bruta dan Limbah Ulin jadi Kerajinan Tangan Bernilai Ekonomi

Oleh : Siti Aisyah Pratiwi

Ia sering dipandang sebelah mata. Sepintas lalu, ia memang terlihat seperti semak belukar tak berguna. Tapi, tumbuhan jenis paku-pakuan (Dicranopteris curranii) ini bisa mempunyai nilai ekonomi bagus setelah diolah menjadi kerajinan tangan. Masyarakat lokal di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menyebut tumbuhan ini bruta.

Saya ke Jerumbun, kawasan konservasi hutan FNPF (Friends of the National Park Foundation), di Desa Sekonyer, menjumpai banyak bruta. Ia ada di sepanjang jalan setapak, di bagian lahan yang terbuka terhadap sinar matahari. Di lokasi bekas tambang emas ilegal, yang masih minim tutupan tegakan pohonnya, bruta juga banyak tumbuh. 

Staf FNPF di Jerumbun tahu cara memanfaatkan bruta itu menjadi kerajinan tangan. Dari tangan terampil seperti Devin (24), Hendri (48), keduanya staf FNPF di Jerumbun, bruta bisa berubah menjadi anyaman berupa cincin atau gelang. Hasil olah tangan mereka, terpampang di etalase produk kerajinan di ruang makan tamu Jerumbun.

Tentu, tidak sembarang bruta bisa diolah menjadi kerajinan tangan. “Yang pasti kita harus ke hutan dulu mencari brutanya. Setelah itu kita jemur, baru dianyam,” ujar Devin.

Lana (30), staf FNPF lainnya memberi contoh bruta yang layak dijadikan kerajinan tangan. Ia mencarinya hingga ke tengah-tengah kumpulan semak. Ia pilih batang-batang bruta yang panjang dan besar. Bahan-bahan pilihan ini, kemudian dijemur dulu. Setelahnya baru dikupas bagian luarnya untuk memperoleh bagian serat inti bruta yang kokoh, tapi selentur tali. Inilah kemudian bahan yang bisa dianyam. 

Meski biasa bekerja fisik di lapangan, Devin juga bisa bekerja dengan teliti dan sabar saat menganyam bruta menjadi gelang dan cincin. Jemarinya lincah, tapi presisi dalam merajut anyaman. Hasilnya, sebuah cincin dan gelang bruta berwarna coklat dengan anyaman rapat tersaji. 

Manajer FNPF, Samsu (40),  menceritakan, kerajinan tangan bruta ini inspirasnya datang dari kebiasaan masyarakat adat Dayak di Kotawaringin Barat. Biasanya mereka membuat anyaman simpai (gagang) parang secara sederhana. 

Ia bilang, orang yang pertama kali membawa ide kerajinan tangan ini bernama Kusnadi. Sosok yang dikenal dengan panggilan Oteh Ikus ini mula-mula memperkenalkan kerajinan tangan bruta pada warga yang tinggal di Tanjung Harapan, Desa Sekonyer. Karena orang-orang Sekonyer di Tanjung Harapan banyak yang bekerja di FNPF, keterampilan ini pun ikut menetap di Jerumbun. 

Tak hanya bruta. Sisa-sisa potongan kayu ulin pun, bisa jadi kerajinan tangan di Jerumbun. Produknya berupa gantungan kunci atau mata kalung. Yang biasa mereka bikin adalah kerajinan tangan dengan motif orangutan, ikon konservasi Tanjung Puting.

“Biasanya pahatan yang kami buat itu berbentuk wajah orangutan jantan, yang ada cheekpad-nya. Cheekpad itu bantalan di pipi orangutan jantan dewasa,” jelas Isam, sapaan hari-hari Samsu.

FNPF mulai memasarkan produk ekonomi kreatif ini pada 2017. Mereka memajangnya di etalase Jerumbun sebagai produk cendera mata yang bisa dibeli para pengunjung. Namun, menurut Hendri, mereka juga menerima pesanan. Meski begitu, target pasar utama mereka adalah pengunjung yang datang ke Jerumbun.

“Karna banyak turis yang datang, jadi harganya lumayanlah,” kata Hendri. 

Ia menyebutkan harga jual produk mereka antara Rp30 ribu sampai Rp100 ribu.

Sebarluaskan :

Recent Post
Donasi Save Our Borneo