Belajar Menulis di Jerumbun

Oleh Ahmat Tirmiji

Mahasiswa dan organisasi berada di Jerumbun untuk melakukan pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh Save Our Borneo (SOB). Jerumbun terletak di Desa Sekonyer Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Mahasiswa yang berasal dari Universitas Antakusuma berjumlah 12 orang. Sedangkan organisasi berjumlah 4 orang.

Tempat ini memiliki beberapa bangunan yang terbuat dari kayu seperti dapur, guest house, dan beberapa bangunan lain. Pekarangan di area Jerumbun cukup hijau dan asri karena pohon yang memenuhi tempat ini.

Setiap bangunan memiliki jarak sekitar 100 meter. Jalan yang dilalui pun hanya setapak kecil yang kiri dan kanannya adalah pohon. Pada pagi hari sangat mudah mendengarkan suara burung berkicau.

Pada Rabu (21/2/2024) siang hari rintik – rintik sendu terdengar di atap dapur Jerumbun. Sebanyak 16 orang yang terhimpun dari mahasiswa dan organisasi sedang mendengarkan arahan dalam kegiatan “Jurnalisme Bercerita”.

Muhammad Habibi (33), adalah direktur dari SOB yang didirikan pada tahun 2005. Ia menjelaskan bahwa SOB adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang Hak Asasi Manusia dan Lingkungan. Dari Habibi juga, penjelasan tentang apa sebenarnya kegiatan jurnalisme bercerita ini mengalir.

“Jurnalisme Bercerita ini awalnya digagas bersama teman – teman yaitu Aldo Jurnalis Kompas, Budi Jurnalis Mongabay, dan Friends of the National Parks Foundation (FNPF),” kata Habibi.

Dalam penjelasannya Habibi menerangkan bahwa kegiatan ini adalah pelatihan yang bertujuan untuk menambah wawasan para peserta tentang jurnalistik. Jurumbun yang terletak jauh dari keramaian dan berada di tengah hutan jadi lokasi pilihan yang bisa membantu peserta.

“Acara ini memang ingin dilaksanakan di Kotawaringin Barat. Pada awalnya kegiatan ini akan dilaksanakan di kantor FNPF, Desa Kapitan, Kecamatan Kumai. Pemilihan tempat di Jerumbun agar peserta bisa lebih berkonsentrasi,” sambungnya.

Jarak dari Jerumbun ke desa terdekat kurang lebih berjarak 25 kilometer. Jerumbun dikelola oleh FNPF. FNPF didirikan pada tahun 1997 oleh seseorang bernama Bayu Wirayuda. Pusat kegiatan FNPF pada awalnya berfokus di dalam Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang berada tepat di seberang sungai pembatas kawasan FNPF.

Pada 2009 pusat kegiatan di dalam kawasan TNTP oleh FNPF sudah mulai bergeser ke daerah yang disebut Jerumbun. Kantor pusat FNPF berada di Bali.

Samsu (40), kerap dipanggil Isam adalah Manajer FNPF yang bergabung pada tahun 2004. Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan Jurnalisme Bercerita ini berdampak baik untuk Jerumbun.

“FNPF adalah Yayasan yang bergerak di bidang lingkungan. Kegiatan Jurnalisme Bercerita ini kami harapkan dapat menginformasikan Jerumbun kepada khalayak ramai bahwa masih ada tempat belajar yang bertemakan alam” kata Isam.

Para peserta menginap di Jerumbun dari tanggal 19 Februari sampai 24 Februari 2024. Tempat para peserta mengistirahatkan badannya cukup baik, karena telah disediakan kasur dan bantal yang cukup empuk.

Sandi Kurniawan (23), adalah seorang peserta yang berasal dari Desa Sabuai, Kecamatan Kumai. Sandi adalah salah satu peserta yang berasal dari organisasi.

BPAN adalah organisasi sayap dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Organisasi ini bergerak dibidang Masyarakat Adat.

“Pelatihan ini cukup menarik karena saya bisa mempelajari ilmu baru yaitu menulis dan keahlian ini cukup sangat berguna untuk saya,” kata Sandi.

“Awal mendengar tentang pelatihan ini dikabari oleh Aryo Tanoto seorang aktivis sosial lalu saya tertarik untuk mengikuti pelatihan ini. Harapan saya setelah mengikuti pelatihan ini, agar teman – teman mendapatkan dampak yang baik dan berguna. Setelah kegiatan ini saya berharap kami mampu untuk terus bisa menulis. Menurut saya ini adalah langkah awal untuk kawan – kawan memulai menjadi Jurnalis ternama,” sambungnya.

Thata Debora Agnessia (19), akrab dipanggil Debora adalah seorang Mahasiswa semester 4 yang sedang aktif kuliah di Universitas Antakusuma jurusan Ilmu Hukum. Debora mengatakan bahwa ia mendapatkan informasi pelatihan ini dari seorang aktivis lingkungan yang bernama Aryo Tanoto juga.

“Saya senang mengikuti kegiatan ini karena dapat menambah relasi bersama teman – teman baru. Belajar menulis tentang jurnalis adalah gaya saya, agar bisa lebih baik dalam membuat konten blog,” kata Debora.

Kegiatan ini cukup membuat mahasiswa dan organisasi untuk belajar menulis lebih baik dari teori – teori yang sudah diberikan oleh para pemateri. Para peserta tidak dipungut biaya untuk mengikuti kegiatan pelatihan ini.

 

Ahmat Tirmiji/Selasa ,20/2/2024. Kegiatan malam saat penyamapai materi di kegiatan Jurnalisme Bercerita pemateri.

Sebarluaskan :

Recent Post
Donasi Save Our Borneo