Banjir Terparah Genangi Hanjalipan

Banjir Terparah Genangi Hanjalipan post thumbnail

Banjir pada tahun 2022 ini adalah yang terparah dibandingkan tahun 1997 di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Akibatnya, banyak rumah warga yang terendam dan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari.

 

(26/10/22) Sejak awal bulan September 2022, warga Hanjalipan harus berhadapan dengan banjir. Air setinggi 1-2 meter menggenangi desa di Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotim, Kalteng.

Kurlian (54), ketua RT 3 Desa Hanjalipan mengatakan bahwa banjir serupa pernah terjadi pada tahun 1997 lalu. Namun, keadaannya tidak separah saat ini. “Sekitar tahun 1997, bajir besar juga pernah melanda desa ini. Tetapi, saat itu tidak ada warga yang mengungsi,” kata Kurlian.

Katil, tempat penampungan barang warga untuk menghidari genangan air yang memasuki dalam rumah.

Sambil membuat alat penangkap ikan dari atas perahu miliknya, Kulian menceritakan bahwa sudah hampir dua bulan rumah ia dan warga lainnya terendam banjir. Memilih tidak mengungsi, Kurlian membuat katil, tempat tinggal sementara dari susunan papan dan balok kayu yang ia tempel di bagian dalam dinding rumah. Sehingga, ada tempat tinggi yang tidak terendam air.

Sebagian besar warga Hanjalipan juga terpaksa harus tinggal di atas katil seperti Kurlian di dalam kediaman mereka. Aktivitas sehari-hari seperti tidur dan memasak, mereka lakukan di atas katil. Sementara itu, sebagian warganya lagi terpaksa harus mengungsi.

Tenda pengungsian warga yang telah disiapkan pemerintah daerah setempat untuk warga di hanjalipan.

Hendrawati (37) adalah sebagian warga Hanjalipan yang memilih untuk mengungsi ke tenda terpal yang memang didirikan oleh warga di salah satu bukit di seberang desa. Meskipun di lokasi yang sama, ada juga didirikan beberapa buah tenda oleh Pemerintah Kotim dan Kalteng.

Perempuan ini mengungsi bersama 3 anggota keluarganya. Ia menuturkan bahwa mereka terpaksa mengungsi karena tidak bisa lagi melakukan aktivitas sehari-hari di rumah. “ Saya tidak bisa bekerja. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan selama banjir kami berharap bantuan dari pihak lain terutama kepada pemerintah,” cerita Hendrawati.

Bersama Hendrawati, ada juga tujuh keluarga lainnya yang ikut mengungsi. Mereka semua mengaku hanya membawa pakaian dan peralatan memasak. Barang-barang lain terpaksa ditinggalkan begitu saja di rumah yang terendam.

Hendrawati, bersama anggota keluarganya di tenda terpal pengungsian yang mereka dirikan untuk tempat memasak dan beristirahat.

Sementara itu, Ilus (55) ketua RT 1 desa Hanjalipan juga menceritaan hal yang sama. Menurutnya, banjir kali ini memang yang terparah. “Banjir kali ini parah. Hal ini bisa jadi karena adanya perubahan lahan, dari yang dulunya hutan sekarang berganti menjadi kebun sawit,” kata Ilus.

Ilus juga menjelaskan bahwa keadaan ini yang memungkinkan air hujan tak lagi dapat tertahan. Sehingga, air hujan akan langsung turun ke sungai dan menyebabkan banjir.

Kondisi banjir desa hanjalipan, membuat akses transportasi darat lumpuh total.

Atas permasalahan lingkungan yang menimpa warga Hanjalipan ini, mereka berharap air dapat segera surut dan banjir tidak lagi terjadi di desa mereka. Sampai saat itu, mereka sangat berharap kepada bantuan dari Pemerintah. (Habibi/P. Juliana)