|
60 Ribu Hektare Hutan Kalteng Siap Ditebang |
|
|
|
|
Written by saveourborneo
|
|
Thursday, 28 January 2010 |
PALANGKARAYA-MI: Seluas 30 ribu hingga 60 ribu hektare hutan di Kalimantan Tengah (Kalteng), siap ditebang dalam tahun ini untuk memenuhi jatah tebang tahunan yang ditargetkan memperoleh 1,8 juta meter kubik kayu.
"Jumlah itu bukan angka maksimal, karena kami tidak berencana mencapai semua jatah tebang yang diterima sebesar 2,1 juta meter kubik," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng Anung Setiadi, di Palangkaraya, Kamis (28/1).
Jumlah luasan hutan yang ditebang itu didasarkan pada asumsi potensi kayu dalam satu hektare hutan di Kalteng yang rata-rata menghasilkan antara 30 hingga 60 meter kubik kayu berbagai jenis.
Anung mengatakan pemerintah daerah setiap tahun cenderung tidak memanfaatkan secara keseluruhan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perusahaan pemegang Hak Penguasaan Hutan (HPH) atau Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) demi menjaga keseimbangan kelestarian hutan.
Kalteng selama ini tercatat sebagai salah satu penghasil kayu terbesar di Indonesia, setelah Papua dan Kalimantan Timur, dengan pasar terbesar untuk ekspor dan sebagian kecil pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Jutaan meter kubik kayu itu rencananya akan diproduksi oleh 47 perusahaan IUPHHK setempat yang tersebar di sejumlah kabupaten yang masih memiliki kawasan hutan produksi dnegan potensi kayu yang besar.
Sementara jenis kayu yang dihasilkan antara lain dari tiga kelompok kayu yang tumbuh di hutan Kalteng, yakni kelompok meranti, kelompok rimba campuran, dan kelompok kayu indah.
Anung menambahkan, target produksi 1,8 juta meter kubik kayu tersebut diharapkan akan tercapai hingga akhir tahun, meski produksi kayu setempat juga seringkali dibayangi masalah bencana alam, banjir, kekeringan, dan lainnya.
Di antara daerah yang selama ini menjadi produsen kayu terbesar yakni Kabupaten Katingan yang pada tahun 2008 memproduksi 450 ribu meter kubik kayu, disusul Kabupaten Seruyan dengan 369 ribu meter kubik, dan Kotawaringin Timur dengan 279 ribu meter kubik.
Sementara di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi)setempat berulang kali mendesak pemerintah segera melaksanakan moratorium guna menanggulangi laju kerusakan hutan yang sudah sedemikian parah.
Habisnya kawasan hutan di berbagai daerah tersebut, menurut Direktur Eksekutif Walhi Arie Rompas, disebabkan banyaknya konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri.
Bila laju konversi hutan itu tidak segera dihentikan, Walhi memperkirakan hutan di Kalimantan akan habis dalam 10 tahun mendatang, sedangkan hutan-hutan di Papua akan habis dalam 15 tahun mendatang. (Ant/OL-7) |